"Abu di Dahi Seorang Anak Raja"
Suatu sore, seorang ayah melihat anaknya pulang dengan wajah murung. Bajunya kotor, lututnya terluka, dan ia terus berkata pelan, “Aku memang anak nakal. Aku selalu bikin salah.”
Sang ayah tidak langsung memarahi. Ia duduk di samping anak itu, membersihkan lukanya perlahan. Lalu ia berkata, “Kamu tahu siapa kamu?”
Anak itu menunduk. “Anak yang selalu salah…”
Ayahnya tersenyum lembut. “Tidak. Kamu anakku. Kamu tetap anakku, bahkan ketika kamu jatuh.”
Cerita sederhana itu mengingatkan kita pada hari ini—Rabu Abu. Kita datang dengan kesadaran bahwa kita rapuh. Kita berdosa. Kita jatuh. Abu di dahi kita seperti berkata: “Lihat, kamu debu.”
Tetapi ada kebenaran yang lebih dalam dari debu itu. Sebelum kita jatuh, sebelum kita berdosa, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27). Kita adalah milik-Nya. Kita memantulkan wajah-Nya.
Dan mungkin yang paling menyedihkan bukanlah bahwa kita berdosa. Yang paling menyedihkan adalah ketika kita tidak lagi terkejut oleh dosa. Ketika kita mulai berkata, “Ya, memang begini hidup. Wajar saja.”
Bayangkan seorang anak raja yang memilih tinggal di kandang kuda dan berkata, “Ini sudah cukup.” Padahal ia punya istana. Ia punya martabat. Ia punya warisan.
Begitulah kita ketika membiasakan diri dengan dosa. Kita lupa siapa diri kita.
Santo Agustinus pernah berkata, “Jadilah apa yang engkau seharusnya.” Become what you are. Kita ini gambar Allah. Maka jadilah sungguh-sungguh gambar Allah.
Virtue—kebajikan—bukan beban tambahan. Itu adalah diri kita yang sejati. Ketika kita mengampuni, kita sedang menjadi diri kita yang asli. Ketika kita jujur, kita sedang pulang ke rumah. Ketika kita setia, kita sedang memulihkan wajah Allah dalam diri kita.
Masa Prapaskah seperti perjalanan pulang. Bukan perjalanan penuh ketakutan, tetapi perjalanan yang dipenuhi harapan. Allah tidak berdiri dengan tongkat untuk menghukum. Ia berdiri seperti ayah dalam cerita tadi—membersihkan luka, mengangkat kita, dan berkata, “Kamu tetap anak-Ku.”
Abu di dahi kita hari ini bukan tanda bahwa kita gagal. Abu adalah tanda bahwa kita mau kembali. Mau berubah. Mau menjadi manusia seutuhnya sebagaimana Allah kehendaki.
Mungkin ada dosa yang sudah lama kita simpan. Mungkin ada kebiasaan yang sulit dilepaskan. Jangan putus asa. Ingatlah: kita bukan diciptakan untuk tinggal dalam dosa. Kita diciptakan untuk kasih. Untuk terang. Untuk kekudusan.
Hari ini, ketika kita bercermin dan melihat abu itu, bayangkan Allah berbisik pelan: “Kamu milik-Ku. Jangan hidup di bawah martabatmu.”
Dan mungkin, di situlah Prapaskah benar-benar dimulai—bukan dengan rasa bersalah yang berat, tetapi dengan kerinduan untuk pulang. Pulang kepada martabat kita. Pulang menjadi gambar Allah.
Karena kita bukan sekadar debu. Kita adalah debu yang dicintai. Debu yang dihembusi napas Allah. Dan kita dipanggil untuk menjadi sungguh-sungguh diri kita—anak-anak-Nya.
Selamat Memasuki Masa Prapaskah
Salam
Ditulis oleh RP. Wilhelmus Ngongo Pala, CSsR.