HARI BERAHMAT DI TENGAH HUJAN: PENERIMAAN KRISMA DI PAROKI CIJANTUNG
Hari ini, Minggu, 18 Januari 2026, menjadi hari yang sungguh istimewa bagi umat Paroki Cijantung.
Sejak pagi hujan turun cukup deras, namun sama sekali tidak mengurangi semangat umat untuk datang dan ambil bagian dalam perayaan iman yang penuh makna.
Justru di tengah hujan itulah, hati-hati dipenuhi sukacita dan rasa syukur.
Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Mgr. Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, dalam rangka Penerimaan Sakramen Krisma bagi 272 orang penerima.
Kehadiran Bapak Kardinal sendiri sudah menjadi anugerah besar bagi umat.

Dengan penuh kesabaran dan kehangatan, beliau memimpin perayaan ini sebagai seorang gembala yang dekat dengan umatnya. Ada banyak hal menarik dan berkesan dalam perayaan hari ini.
Salah satunya, untuk pertama kalinya dalam 16 tahun pelayanan Bapak Kardinal, para penerima Krisma menggunakan busana berwarna merah.
Warna merah bukan sekadar simbol liturgis, tetapi menegaskan makna Sakramen Krisma sebagai sakramen penguatan, tanda kesiapsediaan untuk menjadi saksi Kristus, bahkan bila harus berkorban.
Penerimaan Krisma bukanlah formalitas belaka. Ini adalah keputusan iman—keputusan sadar untuk berkata “ya” kepada panggilan Tuhan. Setiap penerima diajak untuk tidak hanya ambil bagian dalam kehidupan Gereja, tetapi juga berani menjadi saksi di tengah keluarga, masyarakat, dan dunia.
Sakramen ini memanggil setiap orang untuk membuat pilihan-pilihan yang baik dan benar, dengan hati yang teguh dan tanggung jawab yang matang. Dalam homilinya, Bapak Kardinal juga mengajak umat untuk peduli pada alam ciptaan dan keadilan sosial. Salah satu pesan sederhana namun kuat adalah ajakan untuk tidak memboroskan makanan.
Menghabiskan makanan yang sudah diambil adalah wujud kepedulian nyata terhadap bumi. Dunia saat ini membuang triliunan rupiah dalam bentuk sampah makanan, dan orang Katolik dipanggil untuk tidak ikut menyumbang pada kerusakan itu. Kepedulian terhadap sampah dan lingkungan menjadi bagian dari kesaksian iman.
Momen pengurapan Krisma berlangsung khidmat. Hampir semua penerima menjawab “Amin” dengan lantang dan yakin saat diurapi. Jawaban sederhana ini menjadi tanda bahwa mereka sungguh dipersiapkan dengan baik.

Rasa syukur patut disampaikan kepada para katekis yang dengan setia mendampingi, membimbing, dan menyiapkan para penerima Krisma dengan sungguh-sungguh. Dalam perayaan Ekaristi ini, Bapak Kardinal juga memberkati anak-anak, sebuah momen yang mengharukan dan membawa sukacita tersendiri bagi keluarga-keluarga yang hadir.
Berkat itu menjadi tanda perhatian Gereja bagi generasi penerus, yang juga dipanggil untuk bertumbuh dalam iman sejak dini. Meski hujan terus turun, suasana kebersamaan tetap terasa hangat.
Setelah Misa, diadakan ramah tamah sederhana bersama para katekis dan Dewan Pastoral, dengan sajian makanan lokal. Ada pula sesi foto bersama—bersama para penerima Krisma, orang tua, keluarga, petugas liturgi, dan siapa saja yang ingin mengabadikan momen ini. Bapak Kardinal dengan penuh kesabaran melayani semua permintaan foto, menjadikan hari ini semakin berkesan.
Hujan mungkin membasahi halaman dan jalan, tetapi tidak pernah mampu memadamkan keceriaan dan rasa syukur. Hati yang bersyukur tetap bersinar, bahkan di tengah cuaca yang kurang bersahabat.
Semoga penerimaan Sakramen Krisma hari ini menjadi berkat besar bagi seluruh umat Cijantung—menjadi dorongan untuk terus bangkit, bertumbuh, dan berani bersaksi.
Dengan hati yang dikuatkan Roh Kudus, mari melangkah ke depan dengan iman yang hidup dan penuh harapan.
